Heboh!!!! Beredar Kabar Praktek P8K Berbusana Muslim di Bireuen

.

Heboh!!!! Beredar Kabar Praktek P8K Berbusana Muslim di Bireuen

Heboh!!!! Beredar Kabar Praktek P8K Berbusana Muslim di Bireuen
Heboh!!!! Beredar Kabar Praktek P8K Berbusana Muslim di Bireuen
PORTAL ISLAMI: Layaknya menu makanan, praktik pr0st!tus! di Kabupaten Bireuen dilakoni para ‘ayam potong’ dan ‘ayam lepas’. Selain jaringan bisnis s3ks yang terkoordinir seperti kasus ‘Mister Bro’, juga bisa dijumpai oknum p3rempuan penjaja c!nt4 jalanan secara freelance.

Di sebuah kafe penyedia layanan wifi di seputaran Kota Bireuen, awal bulan lalu. Kala itu, malam belum begitu larut. Setidaknya, belum menunjukkan pukul 00.00 Wib dinihari. Hanny, bukan nama sebenarnya, terus mempelototi layar laptop mungil miliknya.

Waria yang bekerja di sebuah salon itu terus berselancar di browser internet. Dia membuka sejumlah website tentang modeling dan gaya rambut. Di lain waktu, Hanny membuka layanan chat facebook dan ber-chatting-ria dengan teman-temannya.

Heboh!!!! Beredar Kabar Praktek P8K Berbusana Muslim di Bireuen

“Dulu, jam-jam seperti ini telepon saya sebentar-sebentar berdering. Banyak yang minta dicarikan teman kencan,” tutur Hanny, mengenang masa-masa saat dirinya masih terlibat jaringan penjaja c!nt4 semalam. “Tapi, dunia itu telah lama saya tinggalkan,” tambahnya.

Diakui Hanny, selain bekarja sebagai penata rias, dirinya juga sempat menjadi mucikari dengan mengelola sejumlah p3rempuan nakal. “P3rempuan binaan saya dulu dari berbagai kalangan. Mulai pelajar hingga mak-mak yang siap meladeni lelaki hidung belang,” kisahnya.
Baca juga: Wanita Yang Bernama Sri Hartati Ini Ajarkan Shalat Menghadap Ke Timur dan Sebut Dirinya Adalah Utusan Tuhan
Namun, kata dia, kebanyakan p3rempuan binaannya hanya mau berkencan kalau sedang butuh uang. “Mereka bahkan tidak mau keluar malam selagi masih ada stok uang,” sebutnya.

Hanny bercerita, para p3rempuan itu dia rekrut melalui obrolan santai saat mereka creambath atau facial di salon tempatnya bekerja. “Dari sekian banyak p3rempuan yang saya beri bayangan cara mengatasi persoalan ekonomi, beberapa orang di antaranya berhasil saya gaet sebagai ‘ayam’ binaan saya,” ungkap waria yang kini mengaku menyesal telah menjerumuskan sejumlah p3rempuan ke lembah hitam.

Kebanyakan p3rempuan mantan binaannya, sambung Hanny, semula memang terkesan tidak tertarik dengan tawarannya. Namun belakangan justru mereka yang kembali mendatanginya, karena terdesak kebutuhan biaya hidup. “Ini terutama p3rempuan yang sudah terlanjur terjebak gaya hidup hedoisme, bermewah-mewah di kampus atau di lingkungan masyarakat,” katanya.

Dalam menjalankan bisnis haram itu, hubungan Hanny dan para p3rempuan binaannya tidak terikat. “Saya hanya perantara. Biasanya, kalau mereka butuh uang akan menghubungi saya. Begitu juga sebaliknya, kalau ada lelaki hidung belang yang minta dicarikan teman kencan, saya akan menghubungi salah satu dari mereka,” paparnya.

Setiap transaksi yang telah disepakati kedua belah pihak, kata Hanny, dirinya hanya mendapat 20 persen dari total biaya layanan yang diterima p3rempuan binaannya. “Ada juga pelacur yang mangkir, sehingga kadangkala saya tidak mendapatkan apa-apa,” katanya. Untuk persoalan yang satu ini, tanpa sadar Hanny menyebut pelacur kepada p3rempuan binaannya.

Menurut Hanny, rata-rata ‘pasiennya’ adalah lelaki hidung belang di seputaran Kabupaten Bireuen. “Bahkan, kalau saya sebutkan namanya pasti orang-orang akan bilang tidak mungkin. Tapi, tak etis saya sebutkan namanya. Siapa tahu ‘orang terhormat’ tersebut juga sudah insaf dan sudah bertobat seperti saya,” katanya.

Waria yang kini sudah mengubah penampilan layaknya lelaki sejati ini menambahkan, di seputaran Kabupaten Bireuen juga beroperasi sejumlah p3rempuan penjaja c!nt4 jalanan yang biasa disebutnya ‘ayam lepas’. “Jadi, tidak hanya p3rempuan penjaja c!nt4 yang terkoordinir. Ada juga yang beroperasi sendiri-sendiri secara lepas,” sebut Hanny.

Menurut dia, p3rempuan-p3rempuan itu biasanya mengincar para pengguna jalan yang mengendarai mobil pribadi. “Biasanya berdiri di pinggir jalan dan berpura-pura sebagai penumpang yang lagi menunggu angkutan umum,” imbuh Hanny.

Bukan sekedar pengembang cerita, perkataan Hanny itu memang terbukti benar. Berkali-kali KoranBireuen memergoki seorang p3rempuan berdiri di beberapa lokasi pinggir jalan negara. Sekilas, p3rempuan itu seperti sedang terburu-buru hendak bepergian ke suatu tempat yang harus menggunakan angkutan umum.

Setelah sekian lama diperhatikan, beberapa minibus L-300 yang melintas di depannya, tapi dia diam saja dan tidak menyetopnya. Padahal, kebanyakan angkutan umum melambatkan laju kendaraanya saat melintasi jalanan di depan p3rempuan itu berdiri. Beberapa tukang RBT yang menanyakan mau pulang ke mana, juga tidak digubrisnya. P3rempuan itu malah asyik memperhatikan kiri-kanan jelaga jalanan, seolah ada kendaraan khusus yang ditunggunya.

Lima belas menit berlalu. Sebuah mobil pribadi meluncur dengan kecepatan sedang dari arah barat. Mobil itu berhenti mendadak sekitar 20 meter dari tempat p3rempuan itu berdiri. Tanpa dipanggil, p3rempuan berpakaian muslimah itu menghampirinya. Sesaat terjadi percakapan antara p3rempuan itu dengan sopir yang hanya seorang diri di mobil itu. Lalu, pintu kiri mobil dibuka. Sambil mengumbar sedikit senyum, p3rempuan itu masuk ke mobil dan berlalu di kegelapan malam yang baru saja menyelimuti bumi.

Berselang beberapa hari, p3rempuan yang sama kembali terlihat berdiri di pinggir jalan, di lokasi berbeda yang masih di seputaran Kabupaten Bireuen. Gayanya sama seperti saat terlihat di lokasi sebelumnya. Namun kali ini, setelah menghampiri dua mobil pribadi yang berhenti di dekatnya, p3rempuan itu tidak juga menumpangi mobil tersebut.

Saat itu, malam baru saja menderas. Waktu magrib baru setengah jam berlalu. KoranBireuen mencoba mendekati p3rempuan berusia sekitar 30-an tahun itu. Berkali-kali diajak bicara, dia tak menggubrisnya. Setelah sejumlah jurus basa-basi dikeluarkan, akhirnya p3rempuan itu mau melayani pembicaraan.

Awalnya, dia mengaku hendak menjenguk anaknya yang mondok di sebuah dayah terpadu. “Tapi saya takut naik angkutan umum malam-malam sendirian, makanya saya tunggu mobil teman yang akan melintas ke sana,” tuturnya.

Sekilas, apa yang dikatakannya itu bisa dipercaya. Apalagi penampilan p3rempuan yang mengaku bernama Shanti itu, berbusana seperti kebanyakan perempuan Aceh. Jilbab yang dikenakannya terjuntai lebar hingga menutupi dada. Celana kain yang dipadukan baju gamis juga agak longgar, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuhnya.

Tidak terkesan p3rempuan nakal dari cara dia berpakaian. Namun, mendadak dia tersentak, ketika KoranBireuen menyebut, pernah berkali-kali memergokinya menumpang mobil pribadi. Setelah dibujuk, akhirnya p3rempuan itu bersedia menceritakan kehidupan kelam yang terpaksa dijalaninya.

Bertempat di sebuah warung bakso yang tak jauh dari lokasi tadi. Shanti mengaku, terpaksa menggeluti dunia hitam karena terdesak kebutuhan hidup dirinya dan dua buah hatinya. “Sudah setahun saya menjanda. Setelah bercerai, mantan suami saya kembali ke kampungnya di Sumatera Utara. Sementara dua anak kami tetap tinggal bersama saya,” sebut Shanti, mengenang perjalanan rumah tangganya yang hancur.

Sejak itu, kata dia, dirinya harus menghidupi kedua anaknya yang sudah memasuki usia sekolah. “Bapaknya tidak pernah mengirimkan biaya, padahal anak tertua saya masuk SD tahun lalu,” katanya.

Setelah sempat berhari-hari kesulitan memenuhi kebutuhan makan bagi dirinya dan dua anaknya, papar Shanti, secara kebetulan dia bertemu teman semasa SMA. “P3rempuan teman saya itu, ternyata sempat mengalami nasib seperti saya. Tapi setelah ‘turun ke jalan’ dia bisa kembali hidup mapan,” kisahnya.

Shanti pun kemudian dibimbing temannya tersebut untuk menjadi p3rempuan jalanan. “Berkat arahan teman saya itu, saya kini berhasil mempraktekkan berbagai trik yang tidak mencurigakan dalam menggaet lelaki hidung belang,” tambahnya.

Hasil yang diperoleh Shanti dari setiap transaksi yang dijalaninya, lumayan besar. Dalam sekali jalan bisa menghasilkan uang ratusan ribu rupiah. Bahkan, ada yang sampai jutaan rupiah. “Itu kalau kebetulan naik mobil bapak-bapak yang membawa saya hingga ke Medan,” katanya.

Menyangkut dua mobil yang tidak jadi ditumpanginya tadi, kata Shanti, karena di kedua mobil itu terdapat lebih dari seorang pria. “Saya tidak pernah naik mobil yang lebih dari satu penghuninya. Takut digilir,” katanya, sedikit malu-malu.

Menurut Shanti, yang menjalani pekerjaan seperti itu di Bireuen tidak hanya dirinya. “Ada beberapa p3rempuan lain yang juga asal Kabupaten Bireuen. Tapi, wilayah operasionalnya sering berpindah-pindah, dari kota ke kota lainnya di Aceh,” jelas p3rempuan asal sebuah gampong pedalaman di Kabupaten Bireuen yang kini mengaku mengontrak rumah di perkotaan.

Meski sampai sekarang belum berhenti mengarungi hidup di lembah hitam, Shanti mengaku setiap saat dirinya merasa dikejar-kejar dosa. “Terkadang saya ingin segera mengakhiri kehidupan kelam ini, bahkan sudah pernah sebulan lebih saya tidak beroperasi. Tapi, biaya hidup yang tinggi dan tidak ada pekerjaan lain, kembali memaksa saya harus berkeliaran di jalanan,” katanya.

Sambil menyeka air mata di pipinya, Shanti melanjutkan, “Semoga Tuhan cepat membuka pintu rezeki yang halal bagi saya, sehingga saya bisa keluar dari lumpur dosa ini.”

Ya, semoga p3rempuan-p3rempuan yang terlanjur menjalani kehidupan kelam seperti Shanti ini, segera mendapatkan petunjuk untuk kembali ke jalan yang benar. Jangan sampai para p3rempuan itu selamanya harus mengorbankan diri, hanya untuk menyelamatkan kehidupan anak-anak mereka yang terhimpit kemiskinan.


Sumber: http://sumatranew.blogspot.co.id

0 Response to "Heboh!!!! Beredar Kabar Praktek P8K Berbusana Muslim di Bireuen"

Post a Comment