Hukum Berhubungan Suami istri Dimalam Ramadhan? Inilah Penjelasannya

.

Hukum B3rhvbung4n Sv4mi !str! Dimalam Ramadhan? Inilah Penjelasannya

Hukum B3rhvbung4n Sv4mi !str! Dimalam Ramadhan? Inilah Penjelasannya
Hukum B3rhvbung4n Sv4mi !str! Dimalam Ramadhan? Inilah Penjelasannya
PORTAL ISLAMI: Alhamdulillah, semua puji untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam mudah-mudahan terlimpah kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya. 

Ada sebagian orang yang begitu semangat mengisi Ramadhan. Hingga ia melarang untuk melakukan jalinan sv4mi !str!saat malam harinya. Ia juga memberi fatwa dan saran tidak untuk melakukan J!m4’ dengan istri supaya dapat lebih maksimal dalam menggerakkan kebaikan di bulan yang mulia. Bagaimana sesungguhnya kedudukan J!m4’ (hvbvng4n su4m! istri) pada malam Ramadhan? Bagaimana juga hukum orang yang melarangnya karena untuk memaksimalkan beribadah di malam-malam tersebut?

Sebenarnya melakukan J!m4’ (jalinan su4m! istri) di malam-malam Ramadhan yaitu mubah seperti makan dan minum. Hal semacam itu didasarkan pada keterangan yang begitu jelas dari Al-Qur'an dan kesepakan kaum muslimin. Allah 'Azza wa Jalla telah berfirman :

أُحِلَّ لَكُم' لَي'لَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُم' هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُم' وَأَنتُم' لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُم' كُنتُم' تَخ 'تانُونَ أَنفُسَكُم' فَتَابَ عَلَي'كُم' وَعَفَا عَنكُم' فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَاب'تَغُوا' مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُم 

 " Dihalalkan untuk anda saat malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri anda ; mereka itu yaitu baju bagimu, dan anda juga yaitu baju untuk mereka. Allah SWT tahu sebenarnya anda tidak bisa menahan nafsumu, karenanya Allah SWT mengampunimu dan memberi maaf padamu. Jadi saat ini campurilah mereka dan cari apa yang sudah diputuskan Allah untukmu. . . " (QS. Al-Baqarah : 187) apakah masih berlaku pendapat yang melarang J!m4’ pada malam Ramadhan setelah jelas izin Allah untuk beberapa hamba-Nya?

Al-Jashshah berkata, " Jadi Allah SWT membolehkan J!m4’, makan, dan minum pada malam-malam puasa dari sejak awal malam sampai terbit fajar. "

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata : Ini yaitu rukhshah dari Allah Ta'ala untuk kaum muslimin. Dan Allah mengangkat hukum yang berlaku dimuka Islam., yang jika salah seseorang mereka telah berbuka jadi halal baginya makan, minum, serta J!m4’ hingga shalat isya' atau tidur sebelumnya itu. Jadi kapan ia sudah tertidur atau shalat Isya', diharamkan atasnya makan minum, dan J!m4’ hingga malam selanjutnya. Merekapun mendapi hal semacam itu begitu berat. Dan rafats di sini yaitu : al-J!m4’, (seperti) yang disebutkan Ibnu 'Abbas, 'Atha', Mujahid, Sa'id bin Jubair, Thawus, Salim bin Abdillah, Amru bin Dinar, al-Hasan, Qatadah, al-Zuhri, al-Dhahak, Ibrahim al-Nakha'I, al-Sudi, Atha' al-Khurasani, dan Muqatil bin Hayyan. . . "  (Usai dari pengucapan beliau) 

Jadi bila orang tersebut yakini haramnya J!m4’ pada malam-malam puasa dan menfatwakan hal semacam itu, jadi ia dalam bahaya besar karena menyelisihi Sharihul Qur'an (ketarangan Al-Qur'an yang begitu jelas). Ia mesti bertaubat pada Allah Ta'ala dengan taubatan nasuha karena sudah melarang suatu hal yang dihalalkan. Bila larangan J!m4’ yang dia keluarkan dalam rencana mencari yang lebih baik dan lebih paling utama ; -- lebih baik beberapa orang menyibukkan diri dengan beribadah dan beberapa macam amal ketaatan pada bulan ini dan tidak larut dalam syahwat-syahwat ini --, jadi masalahnya lebih ringan. Namun, tidak lantas dia benar seratus %, dia tetap salah. Karena berJ!m4’ pada malam-malam puasa yaitu dibolehkan. Tidaklah orang itu lebih wara' (melindungi diri dari yang haram) dari pada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan beberapa sahabatnya. tidak pernah didapatkan satu keterangan dari mereka yang melarang hal semacam itu, terkecuali siapa yang beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Jadi ia tidak bisa mendekati istrinya seperti yang sudah maklum. Dan dalam hadits diterangkan,
Baca juga: Seorang Wanita Hamil Dibunuh dan Perutnya Dibelah, Baca Kisah Selengkapnya
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَي'هِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ ال'عَش'رُ أَح'يَا اللَّي'لَ وَأَي'قَظَ أَه'لَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ ال'مِئ'زَرَ

 " Yaitu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, jika telah masuk pada sepuluh hari paling akhir dari bulan Ramadhan, jadi beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan tali ikat pinggangnya. " (Muttafaq 'Alaih dari 'Asiyah Radhiyallahu 'Anha) 
Imam al-Syaukani rahimahullah menjelaskan, " Perkataannya : Dan Syadda Mi'zarahu (mengencangkan tali ikat pinggangnya), maknanya menjauhi istri-istrinya. " 

Bisa jadi menggauli istri pada malam-malam puasa, ada maslahat yang lebih, yakni bila disertai kemauan yang baik sebagai bentuk qurbah dan tha'ah. Karena hal semacam itu dapat membantu seorang untuk menundukkan pandangan dan melindungi k3m*lu4n. Oleh karenanya, Allah Ta'ala berfirman, " Jadi saat ini campurilah mereka dan cari apa yang sudah diputuskan Allah untukmu. . . " (QS. Al-Baqarah : 187)

Syaikh al-Sa'di rahimahullah berkata, " (Jadi saat ini) setelah ada rukhshah serta kelapangan dari Allah ini, (campurilah mereka) dengan b3rs*tub*h, c*uman, dan b3la1*n, dan yang lain. (dan cari apa yang sudah diputuskan Allah untukmu) tujuannya : niatkan dalam menggauli istri-istrimu itu sebagai taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah Ta'ala. Dan maksud paling utama dari berJ!m4’ tersebut yaitu untuk memperoleh keturunan, melindungi kehormatan farjinya dan farji istrinya, dan memperoleh sebagian maksud pernikahan. " 

Mengenai bila tujuannya meninggalkan J!m4’ dengan istrinya pada malam-malam puasa tidak membahyakan dianya, jadi tidak mengapa (tidak berdosa), karena ia meninggalkan hal yang mubah. Dan ini tetap tidak apa-apa (tidak ada dosa) terkecuali bila hal semacam itu menyiksa istri karena tidak terpenuhi keperluan batinnya. Jadi ia tidak bisa menyakiti dan menyiksa istrinya dengan keputusannya itu. Bahkan juga, termasuk juga keharusan beberapa su4m! yaitu melindungi 'iffah (kesucian) istrinya dan memenuhi keperluan batinnya sesuai sama kemampuan su4m! dan kebutuhan istri. Wallahu A'lam.

Sumber: www.beritaimformasi.com

0 Response to "Hukum Berhubungan Suami istri Dimalam Ramadhan? Inilah Penjelasannya"

Post a Comment